Selasa, 07 Mei 2024

Kajian Wulangreh (52): Katak Dalam Tempurung

 Pada (bait) ke-52, Pupuh ke-4 Pangkur, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV:

Ing sabarang tingkah polah.
Ing pangucap tanapi lamun linggih,
sungkan asor ambekipun,
pan lumuh kaungkulan,
Ing sujanma pangrasane dhewekipun,
nora nana kang memadha,
angrasa luhur pribadi.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Dalam semua tingkah polah.
Dalam perkataan dan juga ketika duduk,
wataknya tak mau kalah (oleh orang lain),
dan juga tak mau ada yang melebihi.
Di antara orang-orang dia merasa dirinya,
tidak ada yang menyamai,
merasa paling tinggi.

  

Kajian per kata:

Ing (dalam) sabarang (semua) tingkah (tingkah, perbuatan) polah (polah, laku), ing (dalam) pangucap (perkataan) tanapi (dan juga) lamun (ketika) linggih (duduk), sungkan (tak mau) asor (kalah) ambekipun (wataknya), pan (dan juga) lumuh (tak mau) kaungkulan (ada yang melebihi). Dalam semua tingkah polah (perbuatan). Dalam semua tingkah polah. Dalam perkataan dan juga ketika duduk, wataknya tak mau kalah (oleh orang lain), dan juga tak mau ada yang melebihi.

Penggubah serat ini tidak menyebut nama dari tabiat seperti yang diuraikan dalam bait ini. Tetapi dari ciri-ciri yang disampaikan ini adalah watak orang yang pengecut. Seorang pengecut biasanya tak mau kalah dari orang lain. Yang sebenarnya dia berhati kerdil karena menganggap jika kalah dari orang lain adalah aib.

Orang seperti ini biasanya tak mempunyai kelebihan yang dapat diandalkan, pecundang tetapi ingin eksis. Akibatnya dalam setiap kesempatan dia akan membenci orang yang lebih baik dari dirinya. Dia akan menyerangnya dengan mencari-cari kelemahan orang itu, sehingga tampak orang itu lebih buruk dari dirinya.

Orang dengan watak seperti ini takkan pernah mendapatkan hikmah apapun dari kehidupannya. Jika ada sesuatu yang baik pada orang lain dia tak mau belajar atau mencontoh, tetapi malah akan sibuk mencari kelemahan orang itu agar dapat mengatakan, dia juga tak sempurna! Tak lebih baik dariku!

Ing (di) sujanma (orang-orang) pangrasane (ia merasa) dhewekipun (dirinya), nora (tidak) nana (ada) kang (yang) memadha (menyamai), angrasa (merasa) luhur (tinggi) pribadi (dirinya). Di antara orang-orang dia merasa dirinya tidak ada yang menyamai, merasa paling tinggi.

Orang seperti ini juga merasa dirinya tak ada yang menyamai. Jika ada kelebihan dirinya sedikit saja akan dia agung-agungkan, sehingga tampak oleh pandangannya sendiri sebagai perbuatan besar yang tak dapat disamai oleh orang lain. Sementara jika menemukan kelemahan pada dirinya dia akan menghibur diri dengan berkata, orang lain juga lebih banyak kelemahannya.

Orang seperti ini tertutup mata hatinya, tak mampu melihat kebenaran di mana pun dia berada. Ada pepatah dalam bahasa Indonesia yang sangat tepat menggambarkan keadaan orang ini: seperti katak dalam tempurung.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/20/kajian-wulangreh-52-katak-dalam-tempurung/

Senin, 06 Mei 2024

Kajian Wulangreh (51): Nafsu Luwamah dan Amarah

 Pada (bait) ke-51, Pupuh ke-4 Pangkur, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV:

Iku wong durjana murka,
nora nana mareme jroning ati.
Sabarang karepanipun,
nadyan wusa katekan,
karepane nora mari saya banjur.
Luwamah lawan amarah,
iku kang den tut wuri.

  Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Orang seperti itu disebut penjahat serakah,
tidak pernah merasa puas dalam hatinya.
Semua keinginannya,
meskipun telah tercapai,
keinginannya tak mereda, (malah) makin menjadi-jadi.
Nafsu luwamah dan amarah,
itu yang diikuti.

 

Kajian per kata:

Iku (itulah) wong (orang) durjana (penjahat) murka (serakah), nora (tidak) nana (ada) mareme (rasa puas) jroning (dalam) ati (hati). Orang seperti itu (disebut) penjahat serakah, tidak pernah merasa puas dalam hati(nya).

Itulah orang durjana, yakni orang yang suka berbuat jahat. Dan kejahatannya kali ini adalah murka, (dibaca murko dalam ejaan Indonesia). Saya belum menemukan kata yang pas dalam bahasa Indonesia untuk terjemahan kata murka ini, kata yang paling dekat adalah serakah. Tetapi kata serakah pun ada dalam bahasa Jawa, yakni srakah, dan artinya agak-agak beda dengan murka.

 Murka adalah watak selalu ingin lebih dari kebutuhannya. Jika makan satu piring pun sudah kenyang tetapi dia ingin dua piring, maka orang itu disebut murka. Jika satu anu (apa saja) sudah cukup baginya tetapi dia ingin dua, tiga atau empat anu (apa saja), maka itulah murka. Lain halnya kalau memang dia harus makan dua piring karena suatu sebab khusus, maka yang demikian itu tak disebut murka. Jadi yang menjadi pokok masalah adalah manakala dia masih ingin lagi ketika sebenarnya kebutuhannya telah tercukupi.

Kata murka biasanya dipakai untuk menyebut suatu keinginan yang berkaitan dengan kuantitas. Misalnya seseorang sebenarnya makan buah pepaya (-yang murah) pun sudah cukup, tetapi dia tidak mau dan memilih buah durian (-yang mahal), asal masih dalam kuantitas yang wajar tidak disebut murka.

Sabarang (semua) karepanipun (keinginannya), nadyan (walau) wusa (sudah) katekan (terpenuhi), karepane (keinginannya) nora (tidak pernah) mari (usai, berhenti) saya (makin) banjur (menjadi-jadi). Semua keinginannya, meskipun telah tercapai, keinginannya tak mereda, (malah) makin menjadi-jadi.

Keinginan manusia sebenarnya berbeda dengan kebutuhan. Tolok ukur kebutuhan adalah tercukupinya maksud dan tujuan suatu perbuatan. Misalnya makan, maksud dan tujuannya adalah supaya kenyang agar badan kuat. Sedangkan keinginan tolok ukurnya adalah kepuasan hati. Misalnya walau makan dengan tempe sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan makan, namun dia ingin makan dengan lauk ayam panggang. Setelah terpenuhi keinginannya, ia pun puas.

Lain halnya dengan orang yang murka, keinginannya tak pernah bisa terpenuhi. Jika dia ingin makan ayam panggang dan sudah mendapat yang dia inginkan keinginannya tak berhenti, dia ingin makan ayam panggang lagi, dua, tiga dan empat. Yang membuatnya berhenti adalah daya tampung waduknya (perut) yang sudah over kapasitas, alias kemlekeren.

Luwamah (tak pernah puas) lawan (dan) amarah (nafsu amarah), iku (itulah) kang (yang) den (di) tut wuri (ikuti). Nafsu luwamah dan amarah, itu yang diikutinya.

Luwamah (kadang disebut juga aluwamah) adalah nafsu yang tak pernah terpuasakan. Kata ini sebenarnya diambil dari kata Arab nafsi lawwamah yang artinya nafsu yang mampu menyesali diri. Dalam budaya Jawa kata ini kemudian berubah menjadi istilah aluwamah, nafsu yang tak pernah terpuaskan. Amarah yang dimaksud dalam gatra ini juga diambil dari kata bahasa Arab nafsal amarah bissu’, nafsu yang menyuruh pada kejahatan.

Kami tak hendak menguraikan menurut pengertian aslinya dalam bahasa Arab atau menurut Al Quran. Karena kata yang dipakai dalam gatra ini adalah kata yang sudah menjadi istilah dalam bahasa Jawa. Dan maksud gatra ini adalah: luwamah adalah nafsu yang tak pernah terpuaskan, amarah adalah nafsu yang cenderung menyuruh kepada perbuatan jahat. Kedua nafsu itulah yang diikuti oleh orang murka.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/19/kajian-wulangreh-51-nafsu-luwamah-dan-amarah/

KANCIL KANG PADHA MIRIS