Sabtu, 06 April 2024

Kajian Wulangreh (11): Aja Cedhak Kebo Gupak

Pada (bait) ke-11, Pupuh ke-2 Kinanthi, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV:

Yen wus tinitah wong agung,
aja sira gumunggung dhiri.
Aja raket lan wong ala,
kang ala lakunireki.
Nora wurung ngajak-ajak,
satemah anenulari.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Jika kau sudah ditakdirkan menjadi pembesar,
janganlah menyombongkan diri.
Jangan kau dekati orang yang memiliki tabiat buruk,
yang bertingkah laku buruk.
Tak urung akan mengajak pada keburukan,
sehingga menularkan perbuatan buruknya.

 

Kajian per kata:

Yen (kalau) wus (sudah) tinitah (ditakdirkan) wong (orang) agung (besar), aja (janganlah) sira (engkau) gumunggung (menyombongkan) dhiri (diri). Jika kau sudah ditakdirkan menjadi pembesar, janganlah menyombongkan diri.

Serat Wulangreh ini sebagiannya memang berupa nasehat untuk para keturunan Paku Buwana IV sendiri, beserta para punggawa nagari Mataram. Sehingga banyak juga ditemukan nasihat bagi mereka khususnya, seperti pada bait ini.

Jika engkau sudah terlahir sebagai pembesar, maksudnya adalah darah biru, keturunan ningrat, yang mau tak mau telah mendapat perlakuan istimewa dalam masyarakat sebagai orang pilihan, maka janganlah menyombongkan diri. Jangan mentang-mentang keturunan orang besar sehingga meremehkan orang lain. Tata pergaulan pun harus dijaga, tingkah laku juga harus dijaga jangan sampai memalukan nama besar yang telah disandang.

Inilah sebabnya kalau Anda hidup di daerah Surakarta dan sekitarnya dan kebetulan punya kenalan keturunan ningrat dari keraton, akan tampak tutur kata mereka yang halus dan tertib. Mereka umumnya bertingkah sopan santun, susila anuraga, tidak gampang marah atau bicara kasar sebangsa memaki-maki, dsb. Yang demikian itu karena memang leluhur mereka sangat keras dalam mendidik dan memberi contoh. Bahkan raja-raja Surakarta juga berbicara memakai bahasa halus kepada siapa saja, tidak mentang-mentang raja terus bicara seenaknya.

Aja (jangan) raket (mendekati) lan (pada) wong (orang) ala (bertabiat buruk), kang (yang) ala (buruk) lakunireki (perilakunya). Jangan kau dekati orang yang memiliki tabiat buruk yang bertingkah buruk dalam kesehariannya.

Satu hal lagi, jangan sekali-kali bergaul dengan orang yang bertabiat buruk, yang suka berbuat buruk juga. Hal itu karena teman adalah cermin dari teman lainnya. Jika seorang buruk perilakunya mempunyai teman akrab, maka dipastikan teman akrabnya juga berperilaku buruk. Karena keburukan hanya akan nyaman jika berkumpul dengan keburukan. Lebih baik mencari teman yang baik akhlaknya, terpuji perilakunya. Karena akhlak seseorang itu menular lewat pertemanan.

Nora (tak) wurung (urung) ngajak–ajak (akan mengajak-ajak), satemah (sehingga) anenulari (menularkan perbuatan buruknya). Tak urung akan mengajak pada keburukan, sehingga menularkan perbuatan buruknya.

Ada peribahasa dalam bahasa Jawa, aja cedhak kebo gupak, jangan dekat-dekat kebo berlumpur. Kata gupak merujuk pada perilaku kerbau yang suka berkubang di lumpur sehingga sekujur tubuhnya penuh lumpur kotor. Maka jangan dekat-dekat dengan kerbau agar tidak ikut terkena lumpur.

Peribahasa di atas adalah kiasan orang yang dekat-dekat dengan orang berwatak buruk. Lambt laun, dan sukar dihindari akan ikut terkena keburukannya. Bisa-bisa malah ketularan sifat buruknya sehingga gemar berkubang dalam lumpur dosa. Maka waspadalah.

Apa yang disampaikan di atas adalah nasihat yang berguna bagi siapa saja. Baik untuk jaman ketika serat ini ditulis maupun untuk jaman sekarang. Tak ada salahnya mengambil hal-hal baik dari masa lalu. Semoga bermanfaat.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/05/kajian-wulangreh-11-aja-cedhak-kebo-gupak/

Kajian Wulangreh (10): Aja Asukan-Sukan

Pada (bait) ke-10, Pupuh ke-2 Kinanthi, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV:

Dadiya lakunireku,
cegah dhahar lawan guling.
Lan aja kasukan-sukan,
anganggoa sawatawis.
Ala watake wong suka,
suda prayitnaning batin.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Jadikanlah amalanmu seperti  itu,
kurangi makan dan tidur.
Jangan gemar berpesta pora,
berpakaianlah sekedarnya.
Buruk tabiat orang yang gemar berpesta pora,
berkurangnya kepekaan batin.

  

Kajian per kata:

Dadiya (jadikanlah) lakunireku (amalanmu seperti itu), cegah (mengurangi, menahan) dhahar (makan) lawan (dan) guling (tidur). Jadikanlah amalanmu seperti  itu, kurangi makan dan tidur.

Jadikan amalan itu sebagai amalanmu sehari-hari, yakni menahan atau mengurangi makan dan tidur. karena banyak makan dan tidur tanda lemahnya kehendak, tanda tunduknya pada keinginan. Orang yang mampu menahan lapar adalah orang yang pengendalian dirinya sudah paripurna. Apalagi ketika semua makanan tersedia untuknya. Yang biasa terjadi adalah ngebo, makan sepuas-puasnya, tak henti-henti seperti kerbau.

Banyak tidur juga menjadi tanda lemahnya tekad. Sedikit-sedikit tidur membuat lemahnya badan, loyo dan kurang semangat bekerja keras. Sedikit tidur justru menjadikan hidup produktif karena banyak waktu untuk berkarya.

Lan (dan) aja (jangan) kasukan–sukan (bersuka-suka, pesta pora), anganggoa (berpakaianlah) sawatawis (sekedarnya). Jangan gemar berpesta pora, berpakaianlah sekedarnya.

Yang tak kalah penting adalah jangan mempunyai kesenangan yang memabukkan. Kata kasukan-sukan mengingatkan pada kegemaran Patih Sengkuni akan main dadu. Seperti kalimat: Patih Harya Suman sanget anggenira nguja kasukan main dhadhu, Patih Harya Suman (Sengkuni) sangat mengumbar kesukaan main dhadhu. Kasukan di sini bermakna hobi yang menjadi candu seperti yang diidap Patih Sengkuni, kemana-mana membawa dadu dan membujuk setiap orang main dadu.

Kasukan-sukan pada kalimat di atas bisa berarti hobi bersuka-ria, berpesta pora, dugem, ngedance atau hura-hura. Ini tidak baik. Selain itu juga berpakaianlah sekedarnya. Jangan berlebihan dan menarik perhatian. Berpakaian nyeleneh dan tidak umum juga tidak seyogyanya dilakukan, dengan alasan apapun. Karena yang demikian itu tidak elok dan mengundang kontroversi. Jadi soal pakaian kenakan sepantasnya saja, tak lebih atau kurang.

Ala (buruk) watake (tabiat) wong (orang) suka (bersuka), suda (berkurang) prayitnaning (kepekaan) batin (batin). Buruk tabiat orang yang gemar berpesta pora, berkurangnya kepekaan batin.

Orang yang gemar bersuka-ria biasanya bertabiat buruk. Selain karena fisiknya melemah, lalai akibat memperturutkan keinginan hati (hardaning kayun) juga membuat kepekaan batin melemah. Hal ini karena hati nurani tertutup oleh nafsu, sehingga gagal menangkap isyarat-isyarat, tanda-tanda, ayat-ayat yang nampak di depan mata. Maka jangan jadikan hal-hal tersebut sebagai perilaku sehari-hari.

Bait ini mengajarkan apa yang seharusnya menjadi watak kita sehari-hari, menjadi amalan rutin dan kontinyu, yakni: mengurangi makan dan tidur, menjauhi pesta pora dan sekedarnya dalam berpenampilan. Insya Allah jika kita berhasil menjadikan tiga hal tersebut sebagai akhlak kita maka kepekaan batin akan meningkat.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/05/kajian-wulangreh-10-aja-asukan-sukan/

KANCIL KANG PADHA MIRIS