Minggu, 28 April 2024

Kajian Wulangreh (34): Lena Temah Lampus

 Pada (bait) ke-34, Pupuh ke-3 Gambuh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Dene tetelu iku,
si kidang suka ing panitipun.
Pan si gajah alena patinireki.
Si ula ing patinipun,
ngandelaken upase mandos.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Maka dari ketiganya itu,
si kijang dalam kegembiraan ketika matinya.
Si gajah mati teledor hingga ajalnya.
Sedangkan ular matinya,
karena terlalu mengandalkan keganasan bisanya.

Kajian per kata:

Dene (maka) tetelu (ketiga) iku (itu), si kidang (si kijang) suka (dalam kegembiraan) ing (ketika) panitipun (matinya). Maka dari ketiganya itu, si kijang dalam kegembiraan ketika matinya.

Masih melanjutkan bahasan tentang tiga watak buruk yang mencelakakan. Si kijang sebagai kiasan watak adigang tadi karena lalai hilang kewaspadaan akan mati dalam keadaan tidak menyangka sama sekali. Dia akan mati ketika sedang berlarian ke sana kemari dengan lincahnya, seakan marabahaya tak menjangkaunya. Dia lupa bahwa musuh-musuhnya senantiasa mengancam dan menunggu saat yang tepat. Ketika dia lalai sedikit saja, habislah nasibnya.

Pan (kalau) si gajah (si gajah) alena (teledor) patinireki (ajalnya). Si gajah mati teledor hingga ajalnya.

Si gajah akan mati karena keteledorannya. Saat ia mengira takkan ada yang mampu mengalahkan kewaspadaannya menurun. Di saat itulah musuh menyerang tanpa ampun dengan membawa penuh dendam kesumat. Sebagai pelampiaan akumulasi hinaan yang telah ia terima, musuh-musuhnya akan menyerang dengan ganas tanpa memberi kesempatan padanya.

Si ula (si ular) ing patinipun (matinya), ngandelaken (terlalu mengandalkan) upase (bisanya) mandos (yang ganas). Sedangkan ular matinya, karena terlalu mengandalkan keganasan bisanya.

Si ular pun bernasib sama, terlalu umuk memamerkan bisanya yang ganas membuat musuh-musuhnya waspada dan mempelajari kelemahannya. Di situlah kemudian mereka menyerang dengan serangan yang mematikan.

Dari ketiga tamsil kehidupan di atas, ketiganya menemui ajal ketika kewaspadaan hilang. Ketika mereka meremehkan musuh, maka musuh semakin mengasah kemampuan dan mencari strategi. Di situlah terlihat siapa sebenarnya yang lebih piawai dalam bertarung. Yang lalai dan teledor akan dihabisi.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/15/kajian-wulangreh-34-lena-temah-lampus/

Kajian Wulangreh (33): Rereh, Ririh, Ngati-ati

 Pada (bait) ke-33, Pupuh ke-3 Gambuh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Ing wong urip puniku,
aja nganggo ambek kang tetelu.
Anganggowa rereh ririh ngati-ati.
Den kawangwang barang laku,
kang waskitha solahing wong.

 Terjemahan bahasa Indonesia:

Dalam hidup seseorang itu,
jangan kau melakukan tiga watak tersebut.
Berlakulah sabar, cermat, dan hati-hati.
Diperhatikan dengan seksama dalam sembarang tindak-tanduk,
yang tajam dalam mengamati perilaku orang lain.

 Kajian per kata:

Ing (dalam) wong (orang) urip (hidup) puniku (itu), aja (jangan) nganggo (memakai, melakukan) ambek (watak) kang (yang) tetelu (tiga itu). Dalam hidup seseorang itu, jangan kau melakukan tiga watak tersebut.

Bait ini merujuk kepada bait sebelumnya tentang tiga watak buruk yang mencelakakan: adigang,  adigung dan adiguna. Dalam hidup seseorang jangan sampai mengidap watak ketiganya itu. Mengenai buruknya tiga watak sudah dibahas dalam kajian sebelumnya. Bait ini menegaskan jangan sampai kita terkena tabiat buruk tersebut, tetapi upayakan agar mempunyai watak sebaliknya.

Anganggowa (berlakulah) rereh (pelan-pelan, sabar) ririh (halus, cermat) ngatiati (hati-hati). Berlakulah sabar, cermat, dan hati-hati.

Pakailah sifat sabar dalam segala tindakan, cermat dalam berbuat dan berhati-hati dalam melangkah. Ini adalah langkah awal agar kita terhindar dari tiga watak buruk tadi. Apabila kita ingin menghindar dari sifat buruk, maka pakailah sifat lawannya.

 Adigang, adigung dan adiguna timbul karena kurangnya pengendalian diri, maka sebagai penawarnya bertindaklah pelan-pelan agar diri terkontrol. Cermat dalam berbuat, tidak grusa-grusu (tak pakai pedoman), gegabah atau kemrungsung (tergesa-gesa). Juga harus penuh pertimbangan sebelum melangkah, hati-hati agar tidak terpeleset dalam tindak angkara.

Den (di) kawangwang (melihat dengan seksama) barang (sembarang) laku (tindak-tanduk), kang (yang) waskitha (tajam dalam mengamati) solahing (perilaku) wong (orang). Diperhatikan dengan seksama dalam sembarang tindak-tanduk, yang tajam dalam mengamati perilaku orang lain.

Kawangwang adalah melihat dengan seksama, detail sampai jelas. Artinya memperhatikan dengan seksama setiap perbuatan, setiap tindak-tanduk, perilaku kita. Selain itu juga harus waskitha, yakni tajam penglihatan atas perilaku orang lain. Boleh jadi orang lain menunjukkan gestur tak suka terhadap tindak-tanduk kita, maka ubahlah agar tidak menyakiti mereka. Asal bukan dalam soal yang prinsip, seyogyanya kita berusaha menyenangkan orang lain, membuat nyaman mereka yang bergaul dengan kita. Hal ini memerlukan pengamatan yang jeli agar perilaku kita dapat kita kontrol.

Inti dari penawar tiga sifat buruk tadi adalah menghargai orang lain. Apa yang kita tidak suka dari perlakuan orang, maka hendaklah kita tidak melakukan juga kepada orang lain. Inilah yang namanya tepa slira, yang bermakna berusaha menerapkan suatu perbuatan kepada diri sendiri sebelum melakukan kepada orang lain.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/14/kajian-wulangreh-33-rereh-ririh-ngati-ati/

KANCIL KANG PADHA MIRIS