Minggu, 28 April 2024

Kajian Wulangreh (28:32): Adigang, Adigung dan Adiguna

 Pada (bait) ke-28 sampai 32, Pupuh ke-3 Gambuh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV. Kami harus menyatukan kajian 5 bait ini agar kesatuan makna tetap terjaga karena tiga istilah di atas seringkali dipakai secara bersamaan. Alasan lain adalah pembahasan ciri-ciri masing-masing watak tersebut saling berkaitan sehingga sulit dipisahkan. Bahkan watak adigang dan adigung mempunya ciri-ciri yang saling tindih. Kami mohon maaf jika kajian ini menjadi terlalu panjang untuk dibuka di HP.

Ana pocapanipun,
adiguna adigang adigung.
Pan adigang kidang adigung pan esthi,
adiguna ula iku.
Telu pisan mati sampyuh.

Si kidang ambegipun,
angandelaken kebat lumpatipun.
Pan si gajah angandelken gung ainggil,
Ula ngandelaken iku,
mandine kalamun nyakot.

Iku upamanipun,
aja ngandelaken sira iku,
suteng nata iya sapa kumawani,
Iku ambeke wong adigang.
Ing wasana dadi asor.

Adiguna puniku,
ngandelaken kapinteranipun.
Samubarang kabisan dipun dheweki,
sapa bisa kaya ingsun,
Toging prana nora enjoh.

 Ambek adigung iku,
angungasaken ing kasuranipun.
Para tantang candhala anyenyampahi.
T
inemenan nora pecus,
satemah dadi geguyon

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Ada istilah yang berbunyi adiguna, adigang, adigung, Adigang dikiaskan seperti kijang,adigung dikiaskan seperti gajah, adiguna adalah ular. Tiga sekalian mati bersamaan.

 Si kijang wataknya mengandalkan kecepatan melompatnya. Kalau si gajah mengandalkan tubuh yang besar dan tinggi. Ular mengandalkan sesuatu, yakni ampuhnya racun ketika menggigit.

Perumpamaannya seperti itulah. Maka janganlah mengandalkan bahwa engkau anak raja hingga tak ada yang berani.  Yang demikian itu adalah adigangPada akhirnya hanya akan menjadi rendah derajatnya.

 Adiguna adalah mengandalkan kepintaran.  Sembarang ketrampilan diaku sendiri seolah pamer, siapa sih yang bisa seperi saya?  Jika kepentok keadaan akhirnya tak mampu.

Watak adigung yaitu memamerkan dalam hal ketangguhanBanyak orang ditantang berkelahi, berwatak buruk dan suka mencaci makiKetika diladeni sungguhan dia tak becus, akhirnya menjadi bahan tertawaan.

 Kajian per kata:

Ana (ada) pocapanipun (istilah), adiguna adigang adigungAda istilah adiguna, adigang dan adigung.

Istilah di atas sering dipakai secara bersamaan untuk menyebut perilaku buruk yang kerap mengidap orang-orang tertentu yang biasanya mempunyai posisi dalam masyarakat.  Artinya bukan orang sembarangan.

pan (yang) adigang (adigang) kidang (kijang) adigung (adigung) pan (itulah) esthi (gajah), adiguna (adiguna) ula (ular) iku (itulah). Adigang dikiaskan seperti kijang, adigung dikiaskan seperti gajah, adiguna adalah ular.

 Tiga hewan tersebut adalah kiasan bagi tiga watak buruk yang sering mengidap orang-orang tertentu. Seperti yang telah kami singgung di atas bahwa pengidap sifat buruk tersebut bukanlah sembarang orang melainkan orang-orang yang mempunyai kelebihan tetapi seringkali menyombongkan diri.

Telu (tiga) pisan (sekalian) mati (mati)  sampyuh (bersamaan). Tiga sekalian mati bersamaan.

Kata sampyuh sering dipakai untuk menggambarkan sebuah akhir pertarungan yang seimbang sehingga kedua pihak mati bersamaan, tidak ada yang menang. Namun dalam gatra ini sampyuh bermakna tiga hewan (dan juga manusia) yang memelihara tiga sifat buruk itu akan sama-sama menemui celaka akibat sifat buruknya.

Si kidang (si kijang) ambegipun (wataknya, sifatnya, kelakuannya), angandelaken (mengandalkan) kebat (kecepatan) lumpatipun (melompatnya). Si kijang wataknya mengandalkan kecepatan melompatnya.

Kijang adalah hewan yang sangat gesit dan dapat melompat jauh. Meski kecil tenaganya sangat kuat, gerakannya sangat cepat. Berkesan hewan yang sangat tangkas dan terampil dalam bergerak. Dapat bermanuver dengan lincah.

Adigang dikiaskan sebagai kijang artinya orang yang adigang adalah orang yang menyombongkan ketrampilannya, kemampuannya, atau kekuasaannya atau kesaktiannya.

Pan (kalau) si gajah (si gajah) angandelken (mengandalkan) gung (tubuh besar) ainggil (dan tinggi). Kalau si gajah mengandalkan tubuh yang besar dan tinggi.

Gajah merupakan hewan yang besar dan juga kuat, namun gerakannya tak lincah seperti kijang. Berkesan sebagai hewan yang kuat dan pasti akan menang jika bertarung karena besarnya. Adigung dikiaskan dengan gajah artinya orang yang adigung adalah orang yang menyombongkan kekuatan dan kebesarannya.

Ula (ular) ngandelaken (mengandalkan) iku (sesuatu), mandine (bisanya kuat) kalamun (ketika) nyakot (menggigit). Ular mengandalkan sesuatu, yakni ampuhnya racun ketika menggigit.

Bisa racun dapat melumpuhkan musuh dalam sekejap. Beberapa ular sanggup meracuni binatang yang jauh lebih besar dengan akibat fatal. Sangat berbahaya. Adiguna dikiaskan sebagai ular artinya menyombongkan sesuatu yang keluar dari lidahnya, dalam konteks manusia adalah perkataannya atau ilmunya.

Iku (itulah) upamanipun (perumpamaannya), aja (janganlah) ngandelaken (mengandalkan) sira(engkau)  iku (itu), suteng (anak) nata (raja) iya (iya) sapa (siapa) kumawani (yang berani). Perumpamaannya seperti itulah. Maka janganlah mengandalkan bahwa engkau anak raja hingga tak ada yang berani.

Sudah menjadi jamak lumrah atau kelaziman jika anak pejabat mengandalkan kedudukan orangtuanya. Mereka mengira akan mendapat perlindungan sehingga seringkali menabrak hukum yang berlaku, meremehkan sesamanya dan kurang menghargai kemampuan orang lain.

Iku (yang demikian itu) ambeke (sifatnya) wong (orang) adigang (adigang). Yang demikian itu adalah adigang.

Itulah watak adigang, menyombongkan kedudukan, kekuasaan politik dan posisi sosialnya. Kelebihan yang ada padanya bukan dipakai untuk melindungi sesama, tetapi malah berkesan pongah dan berlagak.

Ing (pada) wasana (akhirnya) dadi (menjadi) asor (rendah). Pada akhirnya hanya akan menjadi rendah derajatnya.

Jika engkau berlagak demikian bukan rasa hormat yang kau peroleh, melainkan justru kehinaan. Bukan pujian yang akan dituai, melainkan cacian dan hujatan.

Adiguna (adiguna) puniku (adalah), ngandelaken (mengandalkan) kapinteranipun (kepintaran). Adiguna adalah mengandalkan kepintaran.

Inilah yang dikiaskan sebagai ular. Kelebihannya ada pada mulutnya, sama halnya manusia kelebihan terletak pada bicaranya atau ilmu yang dia miliki. Apabila dipakai untuk menyombongkan diri dengan meremehkan orang lain juga tidak baik.

Samubarang (Sembarang) kabisan (ketrampilan atau ilmu) dipun (dia) dheweki (aku sendiri), sapa (siapa) bisa (yang bisa) kaya (seperti) ingsun (saya). Sembarang ketrampilan diaku sendiri seolah pamer siapa sih yang bisa seperi saya?

Over acting dalam bertindak, semua hendak dilakukan seolah hanya dia sendiri yang bisa melakukan itu. Ini sikap pamer yang bercampur meremehkan orang lain. Serba tak puas dengan kerja orang lain sehingga mau dikerjakan sendiri.

Toging (kepentok) prana (keadaan) nora (tidak) enjoh (mampu). Jika kepentok keadaan akhirnya tak mampu.

Tidak ada orang yang berkemampuan super sanggup mengerjakan segala hal sendirian. Kita perlu bekerja sama agar hasil yang dicapai sempurna. Jika meremehkan orang lain dan hendak mengerjakan sendiri segala hal, pastilah tak mampu.

Ambek (watak) adigung (adigung) iku (yaitu),  angungasaken (memamerkan)  ing (dalam hal) kasuranipun (ketangguhan). Watak adigung yaitu memamerkan dalam hal ketangguhan.

Pamer kekuatan seolah tak ada yang mampu melawan. Bersikap congkak seolah-olah sudah akan menang. Meremehkan lawan dengan menghina kemampuannya. Petentang-petenteng seolah tak terkalahkan.

Para (orang banyak) tantang (ditantang) candhala (berwatak jahat) anyenyampahi (suka mencaci). Banyak orang ditantang berkelahi, bertwatak buruk dan suka mencaci maki.

Kesana kemari menantang orang banyak, berwatak buruk karena merasa tak bakal ada yang berani, suka mencaci maki orang lain.

Tinemenan (ketika diladeni sungguhan) nora (tidak) pecus (becus, tidak bisa), satemah (akhirnya) dadi (menjadi) geguyon (tertawaan). Ketika diladeni sungguhan dia tak becus, akhirnya menjadi bahan tertawaan.

Ketika diladeni dengan sungguh-sungguh dia tak seperti yang dikatakan. Ada contoh bagus di dunia nyata tentang watak adigung ini:

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/14/kajian-wulangreh-2832-adigang-adigung-dan-adiguna/

Kajian Wulangreh (27): Tutur Bener Apantes Tiniru

 Pada (bait) ke-27, Pupuh ke-3 Gambuh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Tutur bener puniku,
sayektine apantes tiniru.
N
adyan metu saking wong sudra papeki.
L
amun becik nggone muruk,
 iku pantes sira anggo.

  Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Ajaran yang benar itu,
benar-benar sepantasnya diikuti.
Meskipun berasal dari orang yang rendah derajatnya.
Namun jika baik dalam mengajarkan,
maka itu  pantas kau amalkan.

 Kajin per kata:

Tutur (nasihat) bener (yang benar) puniku (itu), sayektine (sejatinya, benar-benar) apantes (sepantasnya) tiniru (diikuti). Ajaran yang benar itu,benar-benar sepantasnya diikuti.

Bait ini berkaitan dengan sikap kita terhadap nasihat. Nasihat yang benar itu sejatinya pantas untuk diikuti. Perkataan-perkataan baik yang kita dengar, sesudah kita yakini kebenarannya maka wajib bagi kita untuk mengikutinya. Apabila kita tidak mau mengikuti maka nyata-nyata kita telah ingkar (kafir) terhadap kebenaran.

Meski demikian apakah suatu nasihat itu benar atau salah bukan si pemberi nasihat yang menentukan. Karena bisa saja si pemberi nasihat mengklaim kebenaran yang sesungguhnya hanya kepura-puraan belaka. Jadi tolok ukur untuk mengikuti nasihat harus ditentukan oleh si penerima nasihat tersebut. Hal ini berkaitan dengan keimanan yang seharusnya ditentukan secara mandiri oleh si penerima nasihat.

Misalnya jika seseorang memberi nasihat yang benar tetapi si penerima nasihat belum memahami kebenarannya maka tidaklah wajib baginya mengikuti, tetapi wajib baginya memastikan kebenaran nasihat itu. Di lain pihak si pemberi nasihat juga tak boleh kecewa apabila nasihatnya (yang diyakininya benar) tersebut belum dapat dipahami, maka yang harus dilakukan adalah menasihati lagi sampai yang bersangkutan betul-betul paham.

Mengapa hal ini penting ditekankan di sini? Karena sebuah kebenaran tak boleh dipaksakan untuk diterima, melainkan harus dipahamkan dengan alasan dan hujjah yang kuat.

Nadyan (meskipun) metu (berasal) saking (dari) wong (orang) sudra (derajat rendah) papeki (dan papa, miskin). Meskipun berasal dari orang yang rendah derajatnya.

Gatra di atas berisi petuah wajibnya kita mengikuti nasihat yang benar. Di gatra ini ditegaskan meski nasihat tersebut dari orang yang berderajat rendah (sudra) dan orang miskin (papa) tetaplah harus diikuti. Kebenaran tetaplah kebenaran meski datang dari siapa saja. Permata tetaplah permata meski terbenam dalam lumpur. Kita harus bisa menyaring, menimbang dan membedakan mana kebenaran dan kebatilan.

Sudra adalah sebutan untuk kasta terendah dalam agama Hindu, namun kini juga masih dipakai dalam bahasa Jawa untuk merujuk pada orang-orang yang berderajat rendah. Kata papa lebih dekat ke arti kekurangan dalam hal harta (miskin).

Lamun (Namun jika) becik (baik) nggone (dalam, cara) muruk (mengajarkan),  iku (maka itu) pantes (pantas) sira (engkau) anggo (pakai, amalkan). Namun jika baik dalam mengajarkan,  maka itu  pantas kau amalkan.

Yang dimaksud dengan baik dalam mengajarkan adalah cara menyampaikan kebenaran dengan alasan dan hujjah yang kuat. Kebenaran adalah sesuatu yang harus diterima oleh akal sehat, maka piranti untuk mentransfer kebenaran adalah argumentasi. Apa alasan dan bukti-bukti yang disertakan untuk mendukung kebenaran itu.

Jika sebuah kebenaran hadir dengan alasan dan bukti-bukti yang tak terbantahkan maka harus diikuti dan diamalkan, jika masih bisa dibantah maka bantahlah dengan cara yang baik, secara ilmiah. Tidak boleh kita membantah dengan cara diluar kaidah ilmiah atau secara argumentum ad hominem, yakni membantah argumen dengan menyerang cacat pribadi.

Inilah kaidah dalam mencari nasihat yang baik. Kita senantiasa harus memegang prinsip ilmiah dalam hal yang berkaitan dengn kebenaran.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/14/kajian-wulangreh-27-tutur-bener-apantes-tiniru/

KANCIL KANG PADHA MIRIS