Sabtu, 06 April 2024

Kajian Wulangreh (9): Gulangen Ing Kalbu

Kita sampai pada bait ke-9 serat Wulangreh. Pada atau bait ke-9 ini sudah masuk ke Pupuh Kinanti yang merupakan tembang Macapat dengan 6 gatra (baris) dengan metrum: 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i.

Secara bahasa Kinanthi berarti digandeng. Umumnya kata ini dipakai untuk menggambarkan sebuah perhatian atau kasih sayang. Misalnya pada kalimat: Sang Prameswari kinanthi sang Nata manjing jroning kedhaton, Sang Permaisuri digandeng sang Raja masuk ke dalam keraton. Kalimat tersebut menggambarkan keintiman, kemesraan sang raja pada istrinya.  Ya iyalah, masa nggandheng-nggandheng gak pakai mesra. Oleh karena itu watak tembang Kinanthi pun berwatak mesra atau senang.

Selengkapnya pada (bait) ke-9, Pupuh ke-2 Kinanthi, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV:

Padha gulangen ing kalbu,
ing sasmita amrih lantip.
Aja pijer mangan nendra,
kaprawiran den kaesthi.
Pesunen sariranira,
sudanen dhahar lan guling.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Kalian biasakanlah mengasah kalbu,
agar (pikiranmu) tajam menangkap isyarat.
Jangan hanya selalu makan dan tidur,
upayakan sikap kepahlawanan.
Latihlah dirimu dengan,
mengurangi makan dan minum.

 

Kajian per kata:

Padha (Kalian) gulangen (biasakan mengasah) ing kalbu (kalbu) ,ing (dalam) sasmita (isyarat-isyarat) amrih (agar) lantip (peka dalam memahami). Kalian biasakanlah mengasah kalbu, agar (pikiranmu) tajam menangkap isyarat.

Setelah pada pupuh Dhandhang Gula kita diberi nasihat tentang sikap dalam hal ilmu pengetahuan, dalam pupuh Kinanthi ini kita diajarkan bagaimana bersikap pada diri sendiri. Ini pun tak kalah penting karena seringkali orang bisa bersikap baik kepada orang lain, membuat senang dan bersikap hangat, bersahabat dan mengayomi, namun terhadap diri sendiri seringkali lalai.

Intisari dari keberadaan manusia sesungguhnya terletak pada hati. Apabila baik atau sehat hati seseorang maka baiklah seluruh hidupnya. Bait ini memberi nasihat bagaimana melatih agar hati kita senantiasa dalam kondisi terbaiknya, yang dengan demikian menjadi baiklah hidup kita. Namun ini memerlukan sebuah upaya yang sungguh-sungguh dan disiplin.

Hati yang dalam kondisi terbaiknya akan membuat pikiran menjadi lantip, yakni sangat peka dan awas dalam menangkap isyarat (sasmita) atau tanda-tanda jaman dan ayat-ayat Allah. Ini selaras dengan bait awal pada pupuh Dhandhang gula, bedanya pada pupuh Dhandhang gula lantip diperoleh dari mengamati dunia luar lewat ilmu pengetahuan (termasuk pengetahuan agama), pada pupuh Kinanthi ini lantip diperoleh dengan melatih diri sendiri. Ini tidak berarti bertentangan namun saling melengkapi, antara alam luar dan alam dalam, antara jagad gedhe lan jagad cilik, harus selalu diperhatikan.

Aja (jangan) pijer (sering) mangan (makan) nendra (tidur), kaprawiran (kepahlawanan) den (agar) kaesthi (diupayakan). Jangan hanya selalu makan dan tidur, upayakan sikap kepahlawanan.

Salah satu cara awal untuk melatih kepekaan hati adalah dengan mengurangi makan dan tidur. Frasa aja pijer di sini berarti jangan sering-sering, maksudnya makanlah sekedarnya saja agar tetap sehat dan kuat, tetapi jangan hanya hidup untuk makan.

Selain itu upayakan sikap kepahlawanan, kekesatriaan. Ksatria adalah sikap menghormati diri sendiri. Tidak mau apabila diri ini cacat moral, maka senantiasa harus menjauhi sikap amoral, kurang ajar, tidak sopan dan licik. Kalau bahasa sekarang sportif, tidak mencari-cari alasan demi pencitraan diri.

Pesunen (latihlah dengan sungguh-sungguh) sariranira (dirimu sendiri), sudanen (kurangilah) dhahar (makan) lan (dan) guling (tidur). Latihlah dirimu dengan mengurangi makan dan minum.

Pesunen di sini berarti upayakan, latihlah dengan sungguh-sungguh sampai batas maksimal. Jangan lembek terhadap godaan hawa nafsu. Latihan yang paling efektif dalam menahan segala godaan nafsu adalah dengan mengurangi makan dan tidur. dengan mengurangi makan pikiran menjadi jernih dan tidak ngantuk, namun harus tetap dijaga jangan sampai kelaparan. Bisa drop gula darahnya, itu juga tidak baik. Jadi mesti seimbang, samadya, moderat, di tengah-tengah.

Mencegah tidur bisa membuat malam-malam kita hidup. Bisa diisi dengan banyak-banyak ibadah, shalat malam dan muhasabah. Atau bisa diisi dengan mengkaji ilmu pengetahuan, termasuk belajar serat Wulangreh ini.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/04/kajian-wulangreh-9-gulangen-ing-kalbu/

Kajian Wulangreh (8): Naruthuk Ngupaya Murid

Pada (bait) ke-8, Pupuh ke-1 Dhandhanggula, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV:

Ingkang lumrah ing mangsa puniki,
apan guru ingkang golek sabat.
Tuhu kuwalik tingale,
kang wus lumrah karuhun.
Jaman kuna mapan si murid,
ingkang padha ngupaya,
kudu anggeguru.
Samengko iki tan nora,
Kyai Guru naruthuk ngupaya murid,
dadiya kanthinira.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Yang biasa terjadi pada masa kini,
malah guru yang mencari murid.
Benar-benar tampak terbalik (ironis),
dengan kebiasaan yang terjadi di jaman dahulu.
Jaman dulu kala sepantasnya murid,
yang sama-sama berusaha mencari,
dan harus berguru.
Sekarang tidak begitu,
malah guru yang ke sana ke mari mencari murid.
Dijadikan sebagai pengikut.

  

 Kajian per kata:

Ingkang (yang) lumrah (biasa terjadi) ing (pada) mangsa (masa) puniki (kini), apan (malah) guru (guru) ingkang (yang) golek (mencari) sabat (sahabat, murid). Yang biasa terjadi pada masa kini malah guru yang mencari murid.

Yang lazim terjadi sekarang justru para guru yang mencari murid. Kata sabat di sini adalah kependekan dari sahabat, merujuk pada para sahabat nabi yang selalu mengikuti dan menerima petunjuk tentang amalan-amalan keagamaan. Gatra ini menggambarkan keadaan para guru yang sekarang harus mencari orang-orang yang akan diajarkan ilmu agama.

Tuhu (benar-benar) kuwalik (terbalik) tingale (tampaknya), kang (dengan) wus (yang sudah) lumrah (menjadi kebiasaan) karuhun (jaman dahulu). Benar-benar tampak terbalik (ironis), dengan kebiasaan yang terjadi di jaman dahulu.

Ini benar-benar ironis. Seharusnya para murid yang membutuhkan bimbinganlah yang mencari para guru. Yang demikian itu sudah menjadi kebiasaan sejak jaman dahulu kala, tetapi sekarang terbalik keadaannya.

Jaman (jaman) kuna (dulu kala) mapan (pantasnya) si murid (murid),  ingkang (yang) padha (sama-sama) ngupaya (mencari), kudu (harus) anggeguru (berguru). Jaman dulu kala sepantasnya murid yang sama-sama berusaha mencari dan harus berguru.

Sudah menjadi kemapanan sejak dahulu kala bahwa muridlah yang mencari guru. Bila perlu menempuh berbagai rintangan, jarak yang jauh, halangan yang merintang hanya untuk berguru pada orang-orang berilmu. Dan kalaupun sudah bertemu dengan orang yang dimaksud belum tentu diterima. Harus diuji dahulu apakah benar-benar mampu menerima ilmu yang akan diturunkan. Harus dilihat dulu tekad si calon murid apakah benar-benar kuat menempuh pelajaran yang tidak ringan dan perlu ketekunan. Jadi para guru pun tidak akan sembarangan menerima murid, alias tidak mengobral ilmunya.

Samengko (sekarang) iki (ini) tan (justru) nora (tidak), Kyai (kyai) Guru (guru) naruthuk (berkeliaran) ngupaya (mencari) murid (murid), dadiya(dijadikan) kanthinira (pengikut). Sekarang tidak begitu, malah guru yang ke sana ke mari mencari murid. Dijadikan sebagai pengikut.

Jaman sekarang tidak demikian. Para Kyai dan Guru lah yang aktif, berkeliaran mencari murid. Agar mendapat pengikut. Kata naruthuk mengandung konotasi kurang bagus, misalnya pada kalimat: esuk-esuk wis naruthuk mrene golek utangan, pagi-pagi sudah bersegera kemari untuk mencari pinjaman. Jadi ada kesan yang bersangkutan membuang rasa malunya demi mendapat pinjaman.

Pada gatra di atas naruthuk berarti rela menanggung malu ke sana ke mari mencari-cari murid, seolah-olah dia butuh sekali. Ini jelas menurunkan wibawa seorang guru karen aseharusnya dia yang didatangi murid.

Frasa dadiya kanthinira (dijadikan pengikut) mengisyaratkan bahwa sang guru memang sedang paceklik murid, sehingga naruthuk mencari-cari agar dalam hidupnya mempunyai teman. Kata kanthinira di akhir bait ini juga sebagai pertanda selesainya Pupuh Dhandhang Gula, kemudian akan masuk ke Pupuh Kinanthi.

Sampai di sini selesailah sudah kajian Pupuh Dhandhang Gula. Secara umum pupuh ini berisi piwulang tentang sikap kita dalam menuntut ilmu, sikap apa yang perlu diambil dalam mendengar dan melihat berbagai fenomena yang berkaitan dengan simpang siur pendapat di antara orang-orang. Meski sudah kuno, serat Wulangreh dalam beberapa bagian masih relevan dipakai sebagai pedoman dalam bersikap, lebih-lebih menghadapi carut-marut silang pendapat di dunia maya ini. Silakan mengambil pelajaran bagi yang berkenan.

Terima kasih

Catatan tambahan:

Fenomena di atas terjadi di awal abad 18 sesuai jaman serat Wulangreh ini ditulis. Namun demikian jika dibandingkan dengan kondisi jaman sekarang di abad 21 ternyata ada banyak kemiripan. Sekarang ini jika tahun ajaran baru dibuka banyak berseliweran berbagai spanduk, pamflet, brosur, dari sekolah-sekolah yang mencari murid. Tak jarang mereka menawarkan iming-iming berbagai kemudahan dan hasil yang bombastis. Selain itu juga banyak lembaga pendidikan nonformal yang mengklaim mampu membuat anak menjadi pintar secara cepat, bahkan terkesan seperti sulapan.

Di lain pihak, sekarang para murid pun terkesan enggan mengikuti pendidikan. Baru mau masuk sekolah sudah minta tunggangan bagus, motor keren yang bisa lari kencang. Tidak mau sekolah kalau tidak diantar ortu. Kalau ngekost minta fasilitas kelas I, dan sebagainya. Ini gejala yang juga muncul di abad 18, enggan atau kurang semangat mencari ilmu.

Tampaknya watak manusia memang abadi sejak jaman dahulu sampai nanti. Semoga ini bisa menjadi peringatan bagi kita, sekaligus rambu-rambu atau isyarat agar kita mampu untuk mengambil sikap yang tepat ke depan.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/04/kajian-wulangreh-8-naruthuk-ngupaya-murid/

KANCIL KANG PADHA MIRIS